Oemah Jamur

Oemah Jamur
Inovasi Budidaya Jamur Tiram Putih

Bisnis UKM

Bisnis UKM
Informasi Peluang Bisnis UKM di Indonesia

Pengusaha Muslim

Pengusaha Muslim
Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Pertanian Indonesia

Pertanian Indonesia
Informasi Seputar Pertanian Indonesia dapat didapatkan di Sini
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kisah. Tampilkan semua postingan

Juwairiyah bintu Al Harist, “Jelita Penuh Berkah”

Minggu, 27 Desember 2009


Pertengahan tahun ke 5 hijriah terjadi perang Khandaq. :@ Orang-orang Qurays dibantu bangsa Arab yang lain nekat menyerbu kaum muslimin dari luar Madinah. Sementara dari dalam, orang-orang Yahudi menghantam kaum muslimin dari jantung kota. Taknik perang parit yang belum dikenal bangsa Arab, ternyata ampuh untuk menahan laju serangan ribuan pasukan musuh. Dengan pertolongan Alloh, pasukan Quraisy yang dibantu oleh Bani Kinanah, Warga Tuhamah, suku Ghatafan dan Nejed kocar-kacir. Kaum Yahudi pun menerima balasan yang setimpal atas pengkhianatan yang mereka lakukan.

Beberapa bulan setelah itu terdengar kabar bahwa Bani Mushtaliq mengumpulkan pasukan untuk memerangi kaum muslimin. Mereka dipimpin oleh Harits bin Dhirar. Rosululloh bersama para sahabat menyambut seruan perang tersebut. Kedua pasuka berhadapan di sebuah lembah penuh air ’Muraisi.’ Tidak berapa lama mereka saling melepas anak panah. Kemudian Rosululloh memerintahkan pasukan untuk melancarkan serangan secara serentak. Cara ini sangat :D efektif, sehingga pasukan muslimin menundukkan pasuka Musyrik. Cukup banyak pasukan musuh yang tewas, sedangkan para wanita dan anak-anak ditawan, binatang ternak dijadikan rampasan perang. Diantara tawanan ada Juwairiyah binti Al Harist. Ia adalah secantik-cantik :L wanita. Tatkala itu ia masih berumur 20 tahun.

Hasil undian Juwairiyah adalah bagian untuk Tsabit bin Qais bin Syamas. :D

Juwairiyah menulis untuk Tsabit bin Qais bahwa dia hendak menebus dirinya. Tsabit sepakat. Juwairiyah pun segera mendatangi Rosululloh yang saat itu sedang berada bersama Aisyah, Ummul Mukminin. ’Aisayah mengisahkan pengalaman pribadinya tentang Juwairiyah.

”Juawairiyah adalah seorang perempuan yang manis :k dan cantik, tiada seorang pun yang melihatnya melainkan akan jatuh hati :L kepadanya. Tatkala juwairiyah meminta kepada Rosululloh untuk membebaskan dirinya sedangkan –demi Alloh- aku telah melihatnya melalui pintu kamarku, maka aku merasa :( cemburu karena menduga bahwa Rosululloh akan melihat sebagaiman yang aku lihat,” ungkapnya.

” Ya Rosululloh, aku putri Harist bin Dhirar, pemimpin Bani Mushtaliq. Aku kini dalam kuasa Tsabit bin Qois. Aku telah sepakat dengannya untuk menebus diriku. Aku ke sini untuk meminta bantuanmu,” Pinta Juwairiyah dengan gemetar dan :f ketakutan.

Maka menjadi ibalah :k hati Nabi Saw atas kondisi tersebut.

”Maukah engkau mendapatkan hal yang lebih baik dari itu ?”tanya Rosululloh Saw, ”Apakah itu ya Rosululloh ?” Jawabnya dengan sopan.

”Aku tebus dirimu kemudian aku nikahi dirimu !.” Maka tersiratlah pada wajahnya yang cantik suatu kebahagian :L sedangkan dia hampir-hampir tidak perduli dengan kemerdekaannya.

”Mau Ya Rosululloh”

Maka Rosululloh Saw bersabda, ”Aku telah melakukannya.”

’Aisyah, Ummul Mukminin berkisah, ”Berita tersebar di tengah khalayak bahwa Rosululloh telah menikahi Juwairiyah binti al-Harist bin Adi Dhirar. Maka orang-orang berkata, ”Mereka (Bani musthaliq) adalah besan Rosululloh.” Maka mereka melepaskan tawanan perang dari Bani Musthaliq yang mereka bawa. Pernikahan Rosululloh dengan Juwairiyah menjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari Bani Musthaliq. Aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyah.”

Seletah beberapa hari, Al Harist bin Abi Dhirar, ayah Juwairiyah datang menemui Rosululloh, Ia belum tahu kalau anaknya telah diperistri oleh Nabi.

”Anakku tidak berhak ditawan karena terlalu mulia dari hal itu,” serunya. :@

”Bagaimana pendapatmu seandainya anakmu disuruh memilih diantara kita, apakah anda setuju ?” ucap Nabi memberi pilihan.

”Baik,” katanya

Kemudian Al Harist bin Abi Dhirar mendatangi Juwairiyah dan menyuruh dirinya untuk memilih antara dirinya dengan Rosululloh.

”Aku memilih Alloh dan Rosul-Nya,” sebuah jawaban yang menunjukkan bahwa iman telah merasuk ke lubuk hati Juwairiyah. Jawaban seorang ibunda kaum Muslimin. :L

Juwairiyah menutup usianya saat berumur 65 tahun. Ia wafat pada zaman Muawiyah di Madinah tahun 56 H, dan dishalatkan oleh pemimpin Madianah waktu itu, Marwan bin Hakam. Semoga Alloh selalu merahmatinya. :y


Dikutip dari majalah elfata hal.76-77 edisi 11 vol.08 2008 :L


Salman bin Badzakhsyan “Musafir Cinta dari Persia”


Dilaporkan, 24.000 personel tentara siap menerjang Madinah dibawah komando Abu Sufyan dan ‘Uyainah bin Hishn. Mereka berniat membabat habis Islam dan kaum muslimin sampai ke akar-akarnya. Mereka bukan saja dari kalangan :@ kuffar Quraisy. Beberapa suku dan kabilah yang menganggap Islam dan umat islam sebagai musuh bersama telah menyatukan kata, memerangi Rosululloh Saw dan para sahabatnya hingga tak tersisa. Mereka telah berangkat mewujudkan makar mereka.


Mendengar kabar genting ini Rosululloh Saw segera mengumpulkan para sababat. Menghadapi mereka di luar Madinah jelas lebih berbahaya. Karenanya diputuskan untuk bertahan di dalam kota dan mempertahankan Islam sampai titik darang penghabisan.

Masih ada sekian hari sampai datangnya pasukan Quraisy dan sekutunya. Di antara mereka yang gelisah menunggu hari pertempuran itu adalah seorang yang berperawakan jangkung dan berambut lebat. :t Dengan membawa kegelisahannya ia menuju ketempat yang cukup tinggi sampai ia bisa memandangi Madinah dan sekitarnya dengan leluasa.

Disaat itulah ia menyadari sesuatu. Ada yang bisa dilakukan untuk mencegah pasukan sekutu masuk kedalam kota. Setengah berlari ia menemui orang yang paling dikasihinya melebihi dirinya sendiri, :L yaitu Rosululloh Saw.

Ide sederhana: menggali parit ! :D

Madinah dikelilingi oleh benteng ciptaan Alloh berupa gunung-gunung batu yang terjal. Mustahil orang-orang Quraisy dan sekutunya mampu mendakinya dan sampai madinah dengan selamat. Namun demikian, ada areal terbuka yang bisa digunakan sebagai pintu masuk kota. Disepanjang areal terbuka inilah diusulkan digali parit yang tidak dapat dilewati oleh kuda perang terbaik sekalipun. Rosululloh bersuka cita mendengar usulan itu. Rencana brilian itu memang belum pernah dikenal oleh orang-orang arab, tetapi tidak ada pilihan lain.

Penggagas itu adalah sang musafir cinta dari negeri Persia, Salman bin Badzakhsyan yang lebih dikenal dengan Salman al-Farisiy.

Mari kita simak perjalanan :L cintanya...

“Aku lahir dan dibesarkan di Isfahan. Ayahku seorang pejabat yang dihormati disana. Beliau sangat menyayangiku. Sedemikian sayangnya hingga aku tak diizinkan keluar rumah. Aku ditugasi menjaga api, sesembahan kami. Aku bertanggung jawab atas api itu, dan tidak boleh padam. Aku seorang Majusi.

Ayahku memiliki sebidang tanah. Suatu hari aku disuruh kesana. Di tengah perjalanan aku mendapati sebuah bangunan yang tampaknya dipenuhi oleh orang-orang yang sedang beribadah. Aku mendekati bangunan itu dan kulihat orang-orang yang ada di dalamnya tengah khusyu’ beribadah. Dalam hati aku berkata, “Ini lebih baik daripada yang selama ini aku anut.” Aku juga sempat bertanya kepada mereka, dari mana asal-usul agama mereka. “Dari Syam (Syria),“ Jawab mereka.

Aku menikmati dan tetap berada di gereja itu sampai matahari terbenam, sampai ayahku menyuruh utusannya untuk menjemputku.

Kunyatakan ketertarikanku kepada agama yang baru kukenal itu. Perdebatan sengin terjadi antara aku dan ayahku. Hasilnya, tangan dan kakiku dibelenggu. Aku dalam pasungan setelah dalam pingitan.

Lalu aku kirimkan sepucuk surat kepada oang-orang Nasrani; kunyatakan bahwa aku memeluk agama mereka. Aku juga meminta supaya diberitahu jika datang rombongan dari Syria. Permintaanku mereka kabulkan. Mereka mengabariku saat rombongan dari Syria itu datang.dengan berbagai cara akhirnya aku berhasil lepas dari belenggu dan bergabung dengan rombongan itu menuju Syria. Kutinggalkan ayah dan apiku yang sangat aku cintai menuju cinta sejati.

Sesampainya di Syria aku bertanya siapa gerangan orang yang ahli dalam agama ini. ”Uskup pengguni gereja,” jawab mereka. Maka aku datang kepadanya, kuceritakan ihwal diriku, dan keinginanku untuk berkhidmah kepadanya.

Aku tidak menyangka sama sekali sebelumnya, ternyata uskup itu seorang yang busuk. Ia kumpulkan sedekah dari masyarakat, namun alih-alih dibagikannya kepada fakir miskin, sedekah itu ia simpan untuknya sendiri. Singkat kata uskup itu meninggal dan posisinya digantikan oleh uskup yang lain.

Kudapati ia seorang yang shalih. Karenanya aku lebih giat mempelajari agama ini darinya dan aku sangat mencintainya. Tak pernah aku mencintai manusia seperti aku cintaku kepadanya.

Menjelang ajalnya ia berpesan kepadaku untuk menemui temannya di daerah Mosul. Maka setelah memakamkannya, aku pun berangkat ke Mosul. Demikianlah berturut-turut aku berpindah dari Mosul ke Nasibin lalu ke Amuria, sebuah kota yang termasuk wilayah Romawi. Uskup Amuria juga seorang yang sholih. Menjelang ajal dia berujar bahwa sudah tidak ada lagi orang yang sepertinya. Tetapi, katanya sudah dekat masa datangnya seorang Nabi terakhir. Ia akan hijrah ke suatu tempat yang di tumbuhi pohon kurma di antara dua bidang tanah yang berbatu-batu hitam. Dia tidak makan sedekah akan tetapi makan hadiah. Di pundaknya ada cap kenabian.

Suatu hari, dengan menggadaikan ternakku aku berhasil sampai ketanah seperti yang disyaratkan oleh uskup yang terakhir yang kutemui. Oleh orang yang membawaku aku dijual oleh seorag Yahudi Bani Quraizhah. Ku tunggu saat-saat itu.
Suatu hari ku dengar ribut-ribut suara tuanku dengan kawan-kawannya. Katanya ada seseorang yang datang dari Makkah mengaku sebagai Nabi. Mendengar suara itu tubuhku gemetar.

Sore harinya, aku bersiap siap untuk menemui orang yang akan sangat aku cintai, jika memang benar dia orangnya. Aku berangkat ke Quba’. Di sana ku jumpai orang-orang dengan ciri-ciri orang yang diceritakan oleh kawan tuanku. Kepada mereka ku berikan segantang kurma sebagai sedekah. Semua memakannya kecuali satu orang saja. “Ini tanda pertama,” kataku dalam hati.

Keesokan harinya aku kesana lagi. Ku bawa segantang kurma dan kuberikan sebagai hadiah. Semua memakannya, tak terkecuali satu orang yang kemarin tidak mau memannya. “ini tanda kedua,” kumantapkan hatiku.

Beberapa hari kemudian aku menemui mereka sedang mengantarkan jenazah. Dan orang yang kemarin tidak memakan sedekah itu mengenakan dua lembar kain lebar. Aku berusaha melihatnya. Dia paham. Disingkapnya pundaknya. Dengan jelas kulihat cap kenabian, tanda ketiga itu. Melihat itu aku menangis dan menciumi beliau sejadi-jadinya. Aku masuk Islam dan kuceritakan perjalananku. Perjalanan menuju cinta yang tidak sia-sia.


Dikutip dari majalah ar-risalah hal. 48-49 no. 46 Th, Shafar –Rabi’ul awal 1426 H/April 2005 :)

Pemuda dan Bidadari Bermata Jeli


Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk siap-siap sejak senin pagi. Kemudian tiba-tiba saja ada yang membacakan ayat, “Sesungguhnya Alloh membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan menberi surga.” (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, :L kekasihku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi padamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aju telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”

Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar :f dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.”

Laki-laki itu menjawab, “Wahai Abdul Wahid, aku telah berjual beli kepada Alloh dengan harapan mendapat surga, mana mungkin jual beli yang aku persaksikan.” Dia berkata, “Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua,...kalau orang kesayanganku mampu berbuat, mengapa kami tidak?” Kemudian lelaki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Alloh kecuali seekor kuda, senjata dan sekedar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang dialah laki-laki pertama yang tiba di tempat tersebut. Dia berkata, “Assalamu’alaika :) wahai Abdul Wahid.“ Aku menjawab, “Wa’alaikumsalam warahmatullah wa barokatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”

Kemudian kami berangkat menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa di siang hari dan qiyamulail pada malam harinya. Dia melayani kami dan mengembalakan hewan ternak kami serta menjaga kami ketika kami tidur, sampai kami tiba di Wilayah Romawi. Ketiak kami sedang duduk-duduk pada suatu hari , tiba-tiba dia datang sambil berkata, “Betapa rindunya aku kepada bidadari bermata jeli.” Kawan-kawanku berkata, “Sepertinya laki-laki itu sudah mulai :x linglung.” Dia mendekati kami dan berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar lagi, aku sangat rindu kepada bidadari bermata jeli.” Aku bertanya, “Wahai saudaraku, siapa yang kamu maksud dengan bidadari bermata jeli :t itu.” Laki-laki itu menjawab, “ketika itu aku sedang tidur, tiba-tiba aku bermimpi ada seseorang datang menemuiku, dia berkata, “Pergilah kamu menemui bidadari bermata jeli !.” Seseorang dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih. Di taman itu ada beberapa pelayan cantik memakai perhiasan yang sangat indah sampai-sampai aku tidak mampu untuk mengungkapkan keindahannya.

Ketika para pelayan itu melihatku, mereka memberi kabar gembira sambil berkata, “Demi Alloh, suami bidadari bermata jeli sudah tiba.” Kemudian aku berkata, “Assalamu’alaikunna, :L apakah diantara kalain ada bidadari bermata jeli?.” Pelayan cantik itu menjawab, “Tidak, kami hanya sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan maju :L terus !.”

Aku pun meneruskan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah sungai yanga mengalir air susu, tidak berubah rasa dan warnanya, berada disebuah taman dengan berbagai perhiasan. Di dalamnya juga terdapat pelayan yang cantik :o dengan mengenakan berbagai perhiasan. Begitu aku melihat mereka aku :L terpesona. Ketika mereka melihatku mereka memberi kabar gembira dan berkata kepadaku.”Demi Alloh, suami bidadari bermata jeli sudah tiba.” Kemudian aku berkata, “Assalamu’alaikunna,:L apakah diantara kalain ada bidadari bermata jeli?.” Mereka menjawab, “Waalaikumsallam wahai waliyulloh, kami hanya sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan maju terus !.”

Aku pun meneruskan maju, ternyata aku berada di sebuah sungai khamer berada di pinggir lembah, disana terdapat bidadari yang sangat cantik yang membuat aku lupa :o dengan kecantikan bidadari-bidadari yang telah aku lewati sebelumnya. Aku berkata, “Assalamu’alaikunna, apakah diantara kalian ada bidadari bermata jeli?.” Mereka menjawab, “Tidak, kami hanya sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan maju kedepan. ”

Aku berjalan maju, aku tiba di sebuah sungai yang mengalirkan madu asli di sebuah taman dengan bidadari-bidadari yang dangat cantik berkilauan wajahnya dan sangat jelita, :L membuat aku lupa dengan kecantikan para bidadari sebelumnya. Aku berkata, “Assalamu’alaikunna, apakah diantara kalain ada bidadari bermata jeli?.” Mereka menjawab, “Wahai waliyur-rahman, kami hanya sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan maju lagi. ”

Aku berjalan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah tenda terbuat dari mutiara yang dilubangi, didepan tenda terdapat seorang bidadari cantik dengan memakai pakaian dan perhiasan yang aku sendiri tidak mampu mengungkapkan keindahannya :o . Begitu bidadari itu melihatku dia memberi kabar gembira kepadaku dan memaggil dari arah tenda, “Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang !”

Kemudian aku mendekati kemah tersebut lalu masuk. Aku mendapati bidadari itu duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas, :$ bertahta intan dan berlian. Begitu aku melihatnya aku terpesona sementara ia menyambutku seraya berkata, “Selamat datang waliyur-rahman, telah hampir tiba kita bertemu.” Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, “Sebentar, belum saatnya engkau memelukku karena dalam tubuhmu masih ada ruh kehidupan. Tenanglah, :) engkau akan berbuka puasa di kediamanku, insya Alloh.”

Seketika itu aku bangun dari tidurku, :D ”Wahai Abdul Wahid, kini aku sudah tak sabar lagi, ingin bertemu dengan bidadari bermata jeli itu.”

Abdul Wahid menuturkan, “Belum lagi pembicaraan kami (cerita tentang mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh telah mulai menyerang kami, maka kami pun bergegas mengangkat senjata, begitu pula dengan lelaki itu.”

Setelah peperangan berakhir, kami menghitung jumlah para korban, kami menemukan sembilan orang musuh tewas dibunuh oleh lelaki itu, dan dia orang yang kesepuluh yang terbunuh. Ketika aku melintas di dekat jenazahnya aku lihat, tubuhnya berlumuran darah sementara bibirnya tersenyum :) yang mengantarkan pada akhir hidupnya.

Subhanalloh ! :L



Dikutip dari majalah elfata hal. 30-32, edisi 09 volume 07 tahun 2007. ;)

Khaulah binti Tsa’labah, “Pengakuannya Didengar Alloh”


Beliau adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa’labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang :t fasih dan pandai.

Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit, yang senantiasa menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh peperangan Rosululloh. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi’.

Khaulah bin Tsa’labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku!”

Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang untuk beberapa kemudian dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan :) perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Alloh terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “ Tidak...jangan! Demi Alloh yang jiwa Khaulah berada ditangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sehingga Alloh dan Rosul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”

Untuk kemudian Khaulah keluar menemui Rosululloh, lalu dia menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan Nabi dalam urusan tersebut. Rosululloh bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut...aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”

Wanita mukminan ini mengulangi perkataannya dan menjelaskan kepada Rosululloh tentang apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun Rosululloh tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya.”

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit :y sedangakan dihatinya tersimpan kesedihan dan :f kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdoa, “Ya Alloh sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku.”

Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri dihadapan Rosululloh dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighghosah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Alloh Ta’ala. Ini menandakan kejernihan iman dan tauhid yang telah dipelajarinya dari Rosululloh.

Tiada henti-hentinnya wanita ini berdo’a sehingga suatu ketika Rosululloh pingsan sebagaimana beliau pingsan manakala menerima wahyu. Kemudian setelah Rosululloh sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Alloh telah menurunkan Al Qur’an tentang dirimu dan suamimu, kemudian Rosululloh membaca firman-Nya,

“Sesungguhnya Alloh telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Alloh. Dan Alloh mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat,...sampai firman Alloh: “dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih.” (Al-Mujadillah: 1-4)

Kemudian Rosululloh menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:
Nabi: “Perintahkan kepadanya (suami Khasa’) untuk memperdekakan seorang budak!”
Khaulah: “Ya Rosululloh dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.”
Nabi: “Jika demikian perintahkan padanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.”
Khaulah: “Demi Alloh dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.”
Nabi: “Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin.”
Khaulah: “Demi Alloh ya Rosululloh dia tidak memilikinya.”
Nabi: “Aku bantu dengan separuhnya.”
Khaulah: “Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rosululloh.”
Nabi: “Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaullah dengan anak pamanmu itu secara baik.”

Maka Khaulah pun melaksanakannya.

*************

Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam yang didalamnya mengandung banyak pelajaran. :t

Ummul Mukminin Aisyah berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Alloh yang Maha Luas Pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rosululloh, dia berbincang-bincang dengan Rosululloh, sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang mereka katakan, maka kemudian Alloh menurunkan ayat, “Sesungguhnya Alloh telah mendengar perkara wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Alloh...” (al-Mujadillah: 1)

Inilah wanita mukminah :L yang menghentikan Khalifah Umar bin Khatab pada saat perjalanan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di Pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, maka berlalulah hari demi hari sehingga Engkau memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Alloh perihal rakyatmu, ketauhilah barangsiapa yang takut akan siksa Alloh maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barang siapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan dan barang siapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap adzab Alloh.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khatab tidak tahan dan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia... tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Alloh mendengar perkataannya dari langit ketujuh, maka Umar berhak untuk mendengarkan pekataannya.”

Dalam riwayat lain Umar bin Khathab berkata, “Demi Alloh sendainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau menyelesaikan hal yang dikehendakinya, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian mendengarkan shalat kemudian kembali mendengarkan sehingga selesai keperluannya.”

Subhanalloh... :L


Dikutip dari majalah elfata hal. 41-42 edisi 01 volume 7 tahun 2007 :$
 

2009 ·Hudamagazine by TNB